Kapasitas PLTU captive akan meningkat sebesar 180% dalam tujuh tahun
Indonesia saat ini mengoperasikan 49,7 GW PLTU batu bara, termasuk 38,5 GW PLTU yang terhubung ke jaringan (on-grid) dan 11,2 GW PLTU captive. Kapasitas PLTU telah meningkat dua kali lipat selama satu dekade terakhir, yang menyebabkan kelebihan pasokan listrik dalam beberapa tahun terakhir, membebani arus kas PLN dan menjadi penghalang utama untuk ekspansi energi terbarukan.
PLTU captive telah tumbuh hampir lima kali lipat, dari 2,3 GW di tahun 2014 menjadi 11,2 GW di tahun 2023. Peningkatan yang signifikan ini terutama didorong oleh ekspansi besar-besaran industri peleburan mineral di Maluku Utara dan Sulawesi. Industri-industri ini membutuhkan pasokan listrik khusus dan stabil untuk mendukung proses metalurgi yang intensif energi.
Terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, RUKN memproyeksikan total kapasitas batu bara mencapai 76,5 GW pada tahun 2031, dengan menambahkan 26,8 GW PLTU baru. Penambahan ini dapat mencakup 6,6 GW PLTU on-grid, sesuai rencana bisnis PLN (RUPTL 2021 – 2030), dan lebih dari 20 GW PLTU captive untuk mendukung industri pengolahan mineral yang sedang berkembang. Jika diimplementasikan secara penuh, kapasitas PLTU captive di Indonesia akan setara dengan total kapasitas PLTU di Polandia sebesar 31,54 GW.
Pada tahap ini tidak semua rencana proyek PLTU captive telah teridentifikasi. Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) dan Global Energy Monitor (GEM) memperkirakan bahwa kapasitas batu bara captive dapat mencapai 26,2 GW pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada 5,2 GW kapasitas yang belum teridentifikasi, membuka peluang untuk meninjau kembali rencana tersebut dan lebih banyak menambah kapasitas energi terbarukan. Hal ini juga perlu dipertimbangkan dalam kajian dekarbonisasi pembangkit captive dan pembaharuan dokumen Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP).