Produksi melesat, laba merosot꞉ dampak dari ekspansi batu bara berlebihan di Indonesia | Ember

Produksi melesat, laba merosot: dampak dari ekspansi batu bara berlebihan di Indonesia

Ekspansi pertambangan batu bara di Indonesia telah mencapai batasnya, ditandai dengan pendapatan yang menurun dan emisi metana tambang batu bara yang meningkat.

Tersedia dalam: English

6 November 2025
21 menit baca
Unduh PDF

Sorotan

836 Mt
Pada tahun 2024, produksi batu bara Indonesia mencapai rekor tertinggi baru sebesar 836 juta ton.
722 kt
Diperkirakan emisi metana dari tambang batu bara dapat mencapai 722 kt CH4 pada tahun 2024.
25%
Emisi metana dari tambang batu bara diperkirakan akan meningkat sebesar 25% pada tahun 2030.

Ringkasan eksekutif

Produksi batu bara berlebih membawa dampak ekonomi dan lingkungan di Indonesia

Perkembangan pesat industri batu bara di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah memperburuk kelebihan pasokan global, menurunkan harga dan pendapatan dan juga menghasilkan emisi metana yang signifikan. Untuk menyeimbangkan pertumbuhan dengan tujuan iklim, diperlukan penerapan kontrol produksi yang ketat, peningkatan pengelolaan metana, dan persiapan peta jalan transisi berkeadilan.

Produksi batu bara Indonesia melonjak dari 614 juta ton pada 2021 menjadi 836 juta ton pada 2024, meningkat sebesar 36,1%. Namun, negara-negara pengimpor utama seperti Tiongkok dan India mulai mengurangi impor batu bara akibat perluasan energi terbarukan yang cepat dan peningkatan pasokan batu bara domestik. Di sisi lain, permintaan domestik hanya tumbuh secara moderat, didorong oleh permintaan listrik dan industri peleburan. Akibatnya, permintaan batu bara total pada tahun 2025 diperkirakan akan turun sekitar 10% menjadi 756 juta ton. 

Ekspansi batu bara awalnya meningkatkan pendapatan pemerintah, tetapi momentum ini telah melemah. Seiring dengan penurunan harga, perusahaan meningkatkan produksi untuk mempertahankan pendapatan, yang berkontribusi pada kelebihan pasokan global. Dengan biaya produksi yang tetap tinggi, keuntungan perusahaan akhirnya menurun dan pendapatan pemerintah kini justru menunjukkan tren penurunan.

Dampak lingkungan dari ekspansi batu bara juga semakin parah. Peningkatan produksi batu bara telah memperparah emisi metana. Kurangnya kesadaran dari industri dan belum adanya faktor emisi spesifik Indonesia telah membatasi pengelolaan emisi metana. Selain itu, emisi metana tambang batu bara (CMM) diperkirakan akan meningkat sebesar 25% pada tahun 2030 seiring dengan pengembangan tambang bawah tanah baru. 

Untuk menyelaraskan kebijakan batu bara dengan prioritas ekonomi dan iklim Indonesia, laporan ini mengusulkan moratorium terhadap tambang baru, pembatasan produksi yang lebih ketat, pemantauan dan pelaporan emisi metana yang lebih kuat, investasi dalam teknologi penangkapan dan pemanfaatan gas metana, serta langkah-langkah untuk memastikan transisi berkeadilan bagi wilayah yang bergantung pada batu bara.

Indonesia sedang memasuki fase krusial dalam menentukan arah masa depan sektor energinya. Periode ekspansi batu bara secara pesat telah meningkatkan pendapatan jangka pendek, tetapi juga berkontribusi pada kelebihan pasokan global, menekan keuntungan perusahaan, dan memperburuk emisi metana. Tanpa kebijakan yang tegas, dampak ekonomi dan lingkungan ini akan meningkat. Strategi pengelolaan batu bara yang berfokus pada transisi diperlukan untuk mengarahkan industri dan mendukung daerah penghasil batu bara dalam beradaptasi dengan lanskap energi yang terus berkembang. Dokumen Nationally Determined Contribution Kedua (SNDC) Indonesia yang baru diterbitkan mencakup komitmen untuk mitigasi metana tambang batu bara, dan menjadi landasan kebijakan penting untuk implementasi ke depannya.

Dody Setiawan
Analis Senior Iklim dan Energi, Indonesia, Ember

Sektor batu bara Indonesia berada di persimpangan dua realitas—penurunan permintaan global dan peningkatan emisi metana. Jalan ke depan bukanlah untuk mengekstraksi lebih banyak, melainkan untuk mengukur, mengelola, dan mengurangi emisi dengan lebih baik. Mengakui emisi CMM sebagai baik beban iklim maupun peluang inovasi dapat mengubah tantangan kelebihan pasokan hari ini menjadi peluang transisi di masa depan. Pada 2024, emisi metana tambang batu bara Indonesia diperkirakan mencapai 722 kiloton CH₄, setara dengan sekitar 20 juta ton CO₂-ekuivalen, hampir setara dengan emisi tahunan Swedia. Tanpa upaya mitigasi, emisi ini dapat meningkat sebesar 25% pada tahun 2030, mengonsumsi porsi yang signifikan dari sisa anggaran karbon global. Dengan menangani emisi CMM melalui inisiatif pengukuran, pelaporan, dan penangkapan yang lebih kuat, Indonesia dapat berkontribusi dalam melindungi ruang karbon global, meningkatkan keselamatan tambang, dan menarik investasi yang sejalan dengan transisi. Pengelolaan metana tidak lagi menjadi hal yang periferal dalam aksi iklim, melainkan menjadi inti dari kredibilitas global, ketahanan ekonomi, dan transisi energi yang adil.

Nishant Bhardwaj
Direktur, Gas Metana Tambang batu bara (Perubahan Iklim), Ember

Wilayah-wilayah penghasil batu bara di Indonesia perlu segera bersiap untuk menghadapi penurunan pendapatan dari sektor batu bara. Begitu anggaran publik berkurang, upaya untuk mendiversifikasi perekonomian daerah akan semakin sulit.

Timon Wehnert
Kepala Unit Penelitian Transisi Energi Internasional, Wuppertal Institut

Produksi batu bara di Indonesia telah meningkat secara stabil dalam beberapa tahun terakhir, memberikan pendapatan yang signifikan bagi negara. Namun, penambangan batu bara yang agresif telah meningkatkan emisi metana secara signifikan yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Dari sudut pandang pasar, permintaan batu bara Indonesia menurun, terutama dari pembeli utama seperti Tiongkok dan India, seiring dengan komitmen kedua negara tersebut untuk energi bersih. Laporan ini memberikan gambaran komprehensif tentang lanskap sektor batu bara Indonesia, menyoroti implikasi lingkungan dan ekonomi. Laporan ini juga menyajikan rekomendasi tentang cara membatasi produksi batu bara serta mengurangi emisi metana untuk mendukung masa depan energi yang lebih berkelanjutan.

Mutya Yustika
Peneliti dan Koordinator Engagement, Transisi Energi Indonesia, Institute for Energy Economics and Financial Studies (IEEFA)

Poin-poin utama

01

Produksi batu bara Indonesia mencapai puncaknya tahun lalu, dengan permintaan diperkirakan akan turun menjadi 756 juta ton pada tahun 2025

Produksi batu bara turun sebesar 33 juta ton pada periode Januari-Juni 2025, dipicu oleh melemahnya pasar ekspor dan domestik. Tren ini diperkirakan akan berlanjut hingga akhir tahun, dengan ekspor diperkirakan turun sebesar 46 juta ton, sementara permintaan domestik diperkirakan naik sebesar 14 juta ton.

02

Penurunan harga batu bara dan kenaikan biaya produksi menekan laba perusahaan sebesar 67% dari puncaknya pada 2022 

Perusahaan batu bara berusaha mempertahankan pendapatan dengan meningkatkan produksi. Namun, hal ini memperburuk kelebihan pasokan global dan semakin menekan harga. Seiring dengan terus meningkatnya biaya produksi, laba bersih rata-rata turun 67% dari puncaknya di 2022. Pendapatan pemerintah dari batu bara juga terus menurun.

03

Emisi metana tambang batu bara dilaporkan tidak akurat, diperkirakan hingga empat kali lebih tinggi dari data resmi

Perkiraan Ember menunjukkan bahwa emisi metana tambang batu bara dapat mencapai empat kali lebih tinggi dari data resmi 168 kt CH4, akibat faktor emisi yang tidak tepat serta belum tercakupnya emisi dari tambang batu bara bawah tanah.

04

Pengembangan tambang batu bara bawah tanah berpotensi meningkatkan emisi hingga 25% pada 2030 

Emisi CMM dapat meningkat sebesar 25% akibat peningkatan produksi dari tambang batu bara bawah tanah di Kalimantan Selatan, dari 2,6 juta ton tahun lalu menjadi 20 juta ton pada tahun 2030. Selain itu, tambang batu bara bawah tanah juga menimbulkan risiko emisi metana dari tambang yang ditinggalkan (AMM).

Materi pendukung

Bagikan